Adab Bicara Kepada yang Lebih Tua

Adab Bicara Kepada yang Lebih Tua


Sejak pagi, toko bahan bangunan di samping minimarket itu ramai pengunjung. Leoni dan Bram hampir tak punya waktu istirahat karena terlalu sibuk melayani pembeli. Karyawannya memang ada beberapa, tetapi sebagian hanya buruh kasar yang bertugas mengeluar-masukkan barang.

Bram tampak lebih kalem dibanding istrinya. Ia begitu cekatan melayani pembeli dan hanya bicara seperlunya. Namun demikian, Bram dikenal sangat ramah. Senyum pria berkacamata itu selalu mengembang tiap kali bertransaksi dengan orang-orang yang mampir ke tokonya.

Lain Bram, lain pula Leoni. Ibu muda berkulit putih itu cenderung cerewet dan terdengar pedas jika memerintah karyawan. Sifatnya jauh dari kata sabar, sehingga pembeli yang datang pun kadang turut menelan ludah mendengar kalimatnya.

“Oi, Din! Mas ini dah nunggu dari tadi. Buruan dong diangkatin semennya. Malas amat jadi orang!”
“Eh, Man, kok diem aja, sih? Denger nggak bapak ini nyari apa? Bukannya cek terpal di gudang, malah bengong kayak kebo!”

Mereka yang dipanggil ‘Din’ dan ‘Man’ hanya bisa mengangguk sambil buru-buru melaksanakan perintah majikannya. Sebagai pekerja, keduanya tidak berani protes sekalipun dibentak Leoni di depan para pembeli. Rasa malu mungkin sempat dirasakan, namun semua dipendamnya dalam hati karena sadar masih membutuhkan pekerjaan dari sang pemilik toko bahan bangunan.

Perlu diketahui, yang dipanggil ‘Din’ bernama lengkap Tajudin, berumur sekitar 55 tahun dan sudah bekerja lebih kurang 3 tahun. Sementara yang dipanggil ‘Man’ bernama lengkap Herman, dengan perkiraan umur 45 tahun dan sudah bekerja 2 tahun.

Selama bekerja, keduanya mengaku tak pernah sekalipun dibentak Bram, apalagi dimaki-maki di depan pembeli. Sebaliknya, kata-kata kasar justru hampir tiap hari meluncur dari bibir merah Leoni, perempuan yang seharusnya memiliki sifat lebih lembut dan santun.

Benar bahwa Leoni adalah pemilik toko yang memiliki hak untuk menegur karyawan jika bekerja kurang maksimal. Namun, sebagai orang Indonesia yang konon memegang adat ketimuran, harusnya ada cara yang lebih pantas untuk memberi tahu. Bahkan, ada cara yang lebih santun dalam memanggil orang yang lebih tua. Bukan sekedar merujuk pada nama seperti ‘Din’ atau ‘Man’, tetapi sewajarnya memakai embel-embel ‘Pak’.

Sedikit mengutip hadits riwayat Tirmidzi
Rasulullah SAW bersabda,
“Bukanlah dari kami, siapa yang tidak menghormati yang tua dan tidak menyanyangi yang muda”. 

Jika dilihat lebih lanjut, hadits ini menegaskan bahwa orang tua harus dihormati. Penghormatan yang lebih muda terhadap yang lebih tua adalah akhlak yang paling ditekankan dalam hal ini.

Atau abaikanlah hadits di atas dan bayangkan bagaimana jika orangtua Anda dimaki dan diperlakukan tidak sopan oleh orang lain yang notabene usianya jauh lebih muda. Jika Anda pun sakit hati, maka jangan sekali-kali menghardik orang yang lebih tua sekalipun itu bawahan Anda. Dan bagi yang sudah terbiasa bersikap judes, sebaiknya mulai meninggalkan kebiasaan buruk itu sebelum Anda kuwalat! (*)
Written by: Oktavia Lee
Madamvia, Updated at: 11:01 AM

0 comments:

Back To Top