Mendekatkan yang Jauh - Menjauhkan yang Dekat

Mendekatkan yang Jauh - Menjauhkan yang Dekat


Sebaris pesan singkat masuk ke ponsel Lina, memaksanya segera meluncur ke SD Al Kautsar, tempat buah hatinya sekolah. Beberapa berkas laporan penjualan yang baru dibuka, terpaksa ditutup kembali dan dibiarkan teronggok di atas meja.

Langkahnya lincah menuruni tangga, melewati barang yang siap order, lalu pamit dengan bagian resepsionis sembari berlalu pergi. Sebelum masuk ke mobil, Lina sempat mengingatkan kurir dan bagian marketing yang akan mengantar pesanan pelanggan agar lebih berhati-hati dengan segala hal yang mungkin terjadi di perjalanan.

“Siapin uang receh, biasanya banyak pungli di jalan. Untuk Pak Iwan, usahakan ada pembayaran hari ini. Utangnya dah numpuk hampir tiga puluh juta. Kalau tidak ditagih, nanti kamu sendiri yang repot,” ujar Lina.

Kedua bawahannya mengiyakan dan mengangguk tanda setuju. Dalam hitungan detik, Lina sudah melesat bersama mobil kesayangannya menuju salah satu sekolah favorit di Kota Tapis Berseri, tak jauh dari kampus Universitas Lampung (Unila).

Sampai ditujuan, Raz sudah menunggu di depan pintu gerbang. Wajahnya ceria, boleh jadi karena hari ini ia pulang cepat. Ia hafal betul mobil mamanya, sehingga begitu melihat si putih datang, ia langsung berjalan mendekat.

“Kenapa pulang cepat, sayang?” tanya Lina kepada Raz, anaknya.
“Nggak tahu, Ma. Katanya sih ada rapat dewan guru atau apa gitu,” sahut Raz yang langsung fokus pada layar handphone di genggamannya. Meski masih kelas 1 SD, Raz sudah terbiasa dengan gadget canggih seperti yang dimiliki mamanya. 
“Mau tanya, Ma,” ucap Raz sambil menoleh ke arah Lina. “Tadi Bu Guru kasih tebakan; benda apa yang bisa menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh. Kira-kira apa ya, Ma?”

Lina yang tampak konsentrasi nyetir, hanya melirik sesaat dan tersenyum mendengar pertanyaan putra sulungnya. Kadang-kadang ia tak habis pikir, kenapa murid kelas 1 SD acap kali diberi pertanyaan yang cukup memusingkan.

“Raz nggak berpikir dulu, apa kira-kira jawabannya?” Lina balik bertanya.
“Udah mikir sih, Ma. Tapi nggak ketemu juga jawabannya,” sahut Raz.

Lina menghentikan mobilnya di sebuah halaman rumah makan. Sebagai ibu yang baik, ia berpikir mungkin Raz sudah lapar sehingga perlu menambah energi sebelum melakukan aktifitas selanjutnya. Lagipula, perutnya sendiri sudah keroncongan karena pagi tadi tak sempat sarapan.

“Jawab dulu, Ma,” rengek Raz.
“Itu yang kamu pegang apa?” tukas Lina.
“HP.”
“Nah, benda itu bisa menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh!”

Raz masih berpikir, tetapi Lina segera menarik lengan anaknya dan mengajaknya turun dari mobil. “Nanti saja, mama jelasin setelah makan.”

Lina mulai sebal. Kenapa anak sekecil Raz harus dipancing dengan teka-teki semacam itu? Ia tak habis pikir, apa tujuan sang guru melemparkan pertanyaan tersebut. Apa ini bentuk sindiran bagi orangtua yang selalu memanjakan anak-anaknya dengan membelikan gadget mahal?

Pikiran Lina terusik. Memang, ada nilai positif dan negatif dari sebuah handphone. Bagi keluarga yang tinggal berjauhan, antarprovinsi, antarpulau atau bahkan antarnegara, peran handphone akan sangat penting karena menjadi alat komunikasi paling efektif sehingga keintiman sebuah keluarga dapat tetap terjaga. Jarak pemisah ribuan kilometer tidak berarti apa-apa karena siapa pun masih bisa berbincang melalui handphone. Itulah yang disebut mendekatkan yang jauh.

Di sisi lain, handphone juga bisa berdampak negatif karena bisa menjauhkan yang dekat. Beberapa orang yang maniak gadget akan terlena dengan barang canggihnya sehingga lupa dengan orang-orang di sekitar, termasuk keluarga. Mereka bisa mengurung diri di kamar hingga berjam-jam dan enjoy dengan game atau segala macam aplikasi media sosial yang diikutinya. Lambat laun, perilaku seperti itu akan membuat orang yang bersangkutan tanpa sadar menutup diri dan menjadi asing dengan orang-orang di sekitarnya. Bagaimana menurut Anda? (*)
Written by: Oktavia Lee
Madamvia, Updated at: 11:16 AM

0 comments:

Back To Top