Iring-iringan kendaraan plat merah berhenti di sebuah rumah dinas. Dari mobil Land Cruiser, keluar lelaki paruh baya berpakaian batik modern, lengkap dengan celana dasar hitam dan pantofel mengilat. Langkahnya tegap menggandeng sang istri yang berjalan anggun dengan dagu sedikit terangkat!
Sejumlah orang sudah berdiri rapi di sisi kanan dan kiri, mengapit jalur pavingblock yang akan dilewati pejabat tertinggi daerah tersebut. Orang-orang memberi salam, membungkukkan badan sambil mengulurkan tangan, dan kemudian disambut jabat hangat dari lelaki berbatik modern itu.
“Selamat datang, semoga sambutan kami berkenan bagi Bapak dan Ibu,” ujar pria berambut perak, yang jika dilihat dari penampilannya bisa ditebak bahwa beliau pastilah juga pejabat tingkat atas.
“Terimakasih sudah menerima kami dengan baik. Mudah-mudahan saya bisa menjalankan amanah seluruh rakyat untuk membangun kota ini lebih maju lagi,”
kata pria berbatik modern yang tak lain adalah walikota terpilih dan baru sehari dilantik.Pria berambut perak itu rupanya cukup terkesan dengan basa-basi sang walikota, sehingga senyum pun mengembang di bibirnya, memperlihatkan bagian depan mulutnya yang ternyata sudah ompong. Sayang, kesan baik itu seketika redup di hadapan ibu walikota.
Sengaja atau tidak, wanita berkacamata besar ala Syahrini itu justru memalingkan muka dan pura-pura tak tahu saat pria berambut perak mengulurkan tangannya. Pemandangan itu disaksikan banyak pejabat yang juga hadir di lokasi.
Ihwal kepongahan ibu walikota itu kemudian berkembang di kalangan pejabat lain, serta menjadi perbincangan paling menarik di antara kader PKK. Banyak yang menjadi gemas dan mencibir di belakang, namun tak sedikit yang bersikap tak peduli.
timpal ibu lain di sebelahnya.
Jabatan, kedudukan dan popularitas memang akan membuat kehidupan seseorang berubah. Termasuk kebiasaan yang dilakukan sehari-hari, secara otomatis akan mengikuti strata sosial yang kini sudah meningkat. Maka jangan heran jika melihat teman yang awalnya begitu dekat, tiba-tiba terkesan jaga jarak. Mungkin saja kehidupan teman tersebut sudah setingkat ‘naik kelas’.
Suka atau tidak, ini sudah menjadi hukum alam yang harus dimaklumi. Ambil contoh seorang pemulung, penjudi atau pemabuk yang awalnya hanya bergaul dengan orang-orang di level bawah. Ketika kemudian orang tersebut sukses menjadi pengusaha kaya atau pejabat yang terhormat, maka bisa dipastikan ia akan jaga image dan lambat laun melupakan komunitasnya.
Sikap jaga image tidak selamanya harus dimaknai negatif, tapi terkadang memang menjadi tuntutan yang wajib dijalani. Contoh lebih sederhana ketika seorang murid SD harus melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, yakni SMP. Pelan-pelan murid itu akan meninggalkan permainan congklak, kelereng, dan lain-lain, sebagai bentuk perkembangan jiwanya menuju dewasa.
Layaknya orang yang naik kelas, semestinya mental seseorang menjadi semakin matang, semakin arif, semakin bijaksana, semakin santun, semakin pandai menghargai orang lain, dan semakin-semakin lainnya yang mengarah ke penilaian positif. Bukan justru memancing opini negatif seperti yang ditunjukkan ibu walikota di atas. (*)
Sengaja atau tidak, wanita berkacamata besar ala Syahrini itu justru memalingkan muka dan pura-pura tak tahu saat pria berambut perak mengulurkan tangannya. Pemandangan itu disaksikan banyak pejabat yang juga hadir di lokasi.
Ihwal kepongahan ibu walikota itu kemudian berkembang di kalangan pejabat lain, serta menjadi perbincangan paling menarik di antara kader PKK. Banyak yang menjadi gemas dan mencibir di belakang, namun tak sedikit yang bersikap tak peduli.
“Wah, ibu wako yang ini mah sombongnya melebihi ibu gubernur. Nggak ada sopan-sopannya ama bawahan. Gimana kalau nanti jadi ibu negara ya?” celetuk seorang ibu berseragam korpri, suatu siang di sebuah kantin.
“Iya, saya juga lihat sikapnya ama Pak Sekda tempo hari. Sekda itu kan umurnya jauh lebih tua dari Walikota. Tapi sikapnya udah kayak melihat pengemis di jalanan,”
timpal ibu lain di sebelahnya.
Jabatan, kedudukan dan popularitas memang akan membuat kehidupan seseorang berubah. Termasuk kebiasaan yang dilakukan sehari-hari, secara otomatis akan mengikuti strata sosial yang kini sudah meningkat. Maka jangan heran jika melihat teman yang awalnya begitu dekat, tiba-tiba terkesan jaga jarak. Mungkin saja kehidupan teman tersebut sudah setingkat ‘naik kelas’.
Suka atau tidak, ini sudah menjadi hukum alam yang harus dimaklumi. Ambil contoh seorang pemulung, penjudi atau pemabuk yang awalnya hanya bergaul dengan orang-orang di level bawah. Ketika kemudian orang tersebut sukses menjadi pengusaha kaya atau pejabat yang terhormat, maka bisa dipastikan ia akan jaga image dan lambat laun melupakan komunitasnya.
Sikap jaga image tidak selamanya harus dimaknai negatif, tapi terkadang memang menjadi tuntutan yang wajib dijalani. Contoh lebih sederhana ketika seorang murid SD harus melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, yakni SMP. Pelan-pelan murid itu akan meninggalkan permainan congklak, kelereng, dan lain-lain, sebagai bentuk perkembangan jiwanya menuju dewasa.
Layaknya orang yang naik kelas, semestinya mental seseorang menjadi semakin matang, semakin arif, semakin bijaksana, semakin santun, semakin pandai menghargai orang lain, dan semakin-semakin lainnya yang mengarah ke penilaian positif. Bukan justru memancing opini negatif seperti yang ditunjukkan ibu walikota di atas. (*)
Written by: Oktavia Lee
Madamvia, Updated at: 10:46 AM
0 comments: